Tanaman cabai
merupakan tanaman yang paling rawan terhadap serangan hama dan penyakit,
sanitasi lahan pada pertanaman cabai sangat diperlukan untuk
menghindari lahan menjadi inang hama dan penyakit. Penyiangan gulma yang
ada disekitar tanaman perlu dilakukan karena gulma bagi tanaman cabai
sangat mempengaruhi pertumbuhan dan produksi cabai. Tanaman cabai
cenderung kalah bersaing dalam mengambil hara tanah, selain itu gulma
menjadi inang bagi hama tanaman. Untuk menghindari hal tersebut pada
umumnya budidaya cabai dilakukan dengan cara memberikan mulsa MPHP pada
bedengan. Selain sanitasi lingkungan pemeliharaan tanaman cabai juga
membutuhkan perhatian lebih dibandingkan sayuran lain. Kali ini saya
akan menyampaikan informasi bagaimana perawatan tanaman cabai :
Pada fase
pertumbuhan awal, penyiraman tanaman cabai dilkukan setiap hari terutama
pada musim kemarau. Jika kondisi lahan porus sebaiknya penyiraman
dilakukan 2 kali sehari pagi dan sore hari.
Setelah tanaman
memiliki pertumbuhan dan perakaran yang cukup kuat, penyiraman tanaman
cabai pada polybag dapat dilakukan setiap 2 – 3 hari sekali.
Pada pertanaman
dilahan sawah/ pekarangan penyiraman dapat dilakukan 3 - 4 hari sekali
dengan cara menggenangi air/leb pada parit yang ada diantara bedengan.
Jika penggenangan lahan tidak memungkinkan maka penyiraman dapat
dilakukan dengan teknik kocoran menggunakan selang yang dialirkan atau
dikocorkan pada tanah diantara 4 tanaman.
Pemasangan ajir/turus
Tanaman cabai
mudah roboh terutama pada waktu tanaman berbuah lebat, sehingga perlu
dipasang ajir atau turus dengan tujuan untuk menopang tanaman.
Ajir dibuat
dari bilah bambu dengan ukuran panjang 125 cm dan lebar batang 4 cm.
Pada pertanaman cabai di sawah Ajir ditancapkan tegak tiap 3 tanaman
secara berjajar. Dari ajir ke ajir dihubungkan dengan bilah bambu
memanjang pada ketinggian 80 cm dari permukaan tanah. Tanaman pada
polybag juga dapat dipasang ajir pada setiap polybagnya. Batang yang
melengkung karena berat beban buah cabai dapat diikatkan dengan tali
pada ajir tersebut. Pemasangan ajir dilakukan pada saat usia tanaman 1
bulan setelah pindah tanam.
Perempelan
Perempelan
(pembuangan) tunas samping yang berada di bawah cabang sekunder perlu
dilakukan karena tunas samping tersebut tidak produktif hanya akan
mengurangi pertumbuhan cabang tanaman yang produktif.
Perempelan
tunas samping dilakukan pada saat tanaman berumur 7 – 20 hari, yaitu
dengan cara membuang semua tunas samping yang tumbuh biasanya perempelan
dilakukan hingga 2 - 3 kali.
Selain
perempelan tunas samping juga perempelan terhadap bunga pertama yang
berada di sela-sela cabangan pertama. Tujuannya adalah untuk merangsang
pertumbuhan tunas-tunas dan percabangan di atasnya untuk menghasilkan
buah yang lebih banyak.
Pemupukan Susulan
Selain
pemupukan tanaman cabai pada saat pengolahan lahan, perlu dilakukan
pemupukan susulan atau pupuk tambahan, yang dilakukan pada saat fase
pertumbuhan vegetatif. Pupuk tambahan berupa pupuk daun yang diberikan
dengan cara disemprotkan pada tanaman. Pupuk yang banyak dijual di
pasaran antara lain Multimicro dan Comlesal cair.
Pemupukan tambahan dapat dilakukan dengan interval penyemprotan antara 10 – 14 hari sekali, dengan dosis sesuai label produk.
Selain pupuk
tambahan untuk pertumbuhan vegetatif (tunas dan daun), juga perlu
dilakukan pemupukan untuk pertumbuhan bunga dan buah. Pupuk untuk
pertumbuhan bunga dapat dilakukan pada saat tanaman berumur 50 hari
menggunakan pupuk NPK/Ponska (15 : 15 : 15). Pemupukan dengan dosis 250
kg/ha atau takaran pupuk kurang lebih 5 sendok makan yang diberikan
diantara 4 tanaman. Pemberian pupuk dengan melubangi Mulsa Plastik Hitam
Putih (MPHP) di antara 4 tanaman. Pupuk tersebut dimasukkan ke dalam
tanah kemudian disiram dengan air bersih agar cepat larut dan tersebar
ke perakaran tanaman.
Apabila kondisi
pertumbuhan tanaman cabai kurang baik atau karena terserang hama
penyakit dengan dosis NPK dapat diberikan pupuk sebanyak 4 – 5 kg
dilarutkan dalam 200 lt air (1 drum) lalu dikocorkan pada setiap tanaman
sebanyak 300 – 500 cc atau tergantung kebutuhan.
Pemupukan tanaman cabai pada polybag dapat dilakukan dengan dosis antara 5 - 6 gram/ polybag. sebaiknya diberikan dengan cara dikocor menggunakan air bersih. Kelebihan dosis pupuk dan pemupukan pada terik matahari dapat mengakibatkan tanaman layu.
Pemupukan tanaman cabai pada polybag dapat dilakukan dengan dosis antara 5 - 6 gram/ polybag. sebaiknya diberikan dengan cara dikocor menggunakan air bersih. Kelebihan dosis pupuk dan pemupukan pada terik matahari dapat mengakibatkan tanaman layu.
Varietas cabai hibrida umumnya bisa berbuah cukup lama, sehingga dapat dipanen hingga 12 – 14 kali. Agar produktivitas buah cabai tetap baik maka setiap usai panen perlu dilakukan pemupukan NPK atau campuran ZA, Urea, TSP, KCl dengan perbandingan 1 : 1 : 1 : 1.
Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman
Pengendalian hama dan penyakit tanaman cabai dapat dilakukan dengan
memberikan fungisida dan insektisida nabati dengan cara penyemprotan
secara teratur. Jika menggunakan fungisida dan insektisida kimia
dilakukan berdasarkan serangan hama dan aplikasinya sesuai anjuran serta
harus tepat waktu dan sasaran. Fungisida dan pestisida kimia memiliki
residu yang dapat membahayakan kesehatan manusia.
Jenis hama dan penyakit yang menyerang pada budidaya cabai dan cara penanganannya adalah sebagai berikut :
Kutu daun/Aphis, penanggulangannya dengan : Curater diberikan pada umur 25 HST (1 gr/ batang)
Hama Trips, penanggulangannya dengan : Lanate 2-5 EC , 2 cc/ ltr air
Tungau, penanggulangannya dengan : Pagassus 500 SC, 2,5 cc/ ltr air
Antraknosa (Colleorchum capsici dan C. gloesporoides), penanggulangannya dengan :
- Score 2 cc/ltr air
- Daconil 20 gr/lt air (intreval 5 hari sekali)
Penyakit bercak daun (Cercuspora capsici), penanggulangannya dengan : Daconil 25 cc/ltr air (intreval 4 hari sekali)
Penyakit layu (Fusarium oxysporum), cara mengatasainya dengan : Eradikasi (tanaman dicabut dan bakar)
Penyiangan merupakan salah satu upaya pengendalian hama penyakit, karena
adanya gulma dapat menjadi inang berkembangnya hama dan penyakit, untuk
itu pengawasan secara rutin dan berkala harus dilakukan pada pertanaman
cabai sehingga ketika terdapat gejala hama dan penyakit dapat sedini
mungkin ditanggulangi. Semoga informasi ini dapat bermanfaat (amss)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar