Minggu, 14 Juli 2013

fungisida cabe

Fungisida Untuk Tanaman Cabe dan Tomat

demplot brantacol 70 WP bleacher 250 EC
Bercak Daun dan Buah (Collectro-tichum capsici (Syd). Butl. et. Bisby).
Bercak daun dan buah cabai sering disebut penyakit Antraknose atau "patek". Penyakit ini menjadi masalah utama di musim hujan. Disebabkan oleh cendawan Gloesporium piperatum Ell. et. Ev dan Colletotrichum capsici. Cendawan G. piperatum umumnya menyerang buah muda dan menyebabkan mati ujung. Gejala serangan penyakit ini ditandai dengan terbentuknya bintik-bintik kecil kehitaman dan berlekuk, serta tepi bintik berwarna kuning. Di bagian lekukan akan terus membesar dan memanjang yang bagian tengahnya berwarna gelap. Cendawan C. capsici lebih sering menyebabkan buah cabai membusuk. Gejala awal serangan ditandai dengan terbentuknya bercak coklat-kehitaman pada buah, kemudian meluas menjadi busuk-lunak. Pada bagian tengah bercak terdapat titik-titik hitam yang merupakan kumpulan dari konidium cendawan. Serangan yang berat menyebabkan buah cabai mengkerut dan mengering menyerupai "mummi" dengan warna buah seperti jerami.
Pengandalian dapat dilakukan dengan cara : 
  1. Perlakuan benih, yaitu direndam dalam larutan fungisida berbahan aktif Benomyl atau Thiram, misalnya Benlate pada dosis 0,5/lt, ataupun berbahan aktif Captan (Orthocide) dengan dosis 1 gr/lt. Lamanya perendaman benih antara 4-8 jam. 
  2. Pengaturan jarak tanam yang sesuai sehingga kondisi kebum tidak terlalu lembab. Pada musim kemarau dapat menggunakan jarak tanam 50 x 70 cm, sedangkan di musim hujan 60 x 70 cm ataupun 65 x 70 cm, baik sistem segi empat atau segi tiga zig-zag. 
  3. Pembersihan (sanitasi) lingkungan yaitu dengan cara menyiang gulma atau sisa-sisa tanaman yang ada di sekitar kebun agar tidak menjadi sarang hama dan penyakit. 
  4. Buah cabai yang sudah terserang penyakit dikumpulkan, kemudian dimusnahkan (dibakar). 
  5. Penyemprotan dengan fungisida seperti , Bleacher 250 EC, Mandat 80 WP, Botanil 75 WP, Brantacol 70 WP.. Fungisida-fungisida tersebut efektif menekan Antraknosa. 
  6. Rotasi tanaman, yakni pergiliran tanaman yang bukan famili Solanaceae (tomat, kentang, terung, tambakau). Tujuan rotasi tanaman ini adalah untuk memotong siklus hidup cendawan penyebab penyakit Antraknosa.
Bercak Daun (Cercospora capsici Heald et Wolf)
Penyebab penyakit bercak daun adalah cendawan Cercospora capsici. Gejala serangan penyakit ditandai dengan bercak-bercak bulat kecil kebasah-basahan. Berikutnya bercak akan meluas dengan garis tengah + 0,5 cm. Di pusat bercak nampak berwarna pucat sampai putih dengan tepinya berwarna lebih tua. Serangan yang berat (parah) dapat menyebabkan daun menguning dan gugur, ataupun langsung berguguran tanpa didahului menguningnya daun. Pengen-dalian penyakit ini dapat dilakukan dengan cara menjaga kebersihan kebun, dan disemprot fungisida seperti Bleacher 250 EC, Mandat 80 WP, Botanil 75 WP, Brantacol 70 WP. secara berselang-seling.
 
Bercak Alternaria (Alternaria solani Ell & Marf)
Penyebab penyakit bercak Alternaria adalah cendawan. Gejala serangan penyakit ini adalah ditandai dengan timbulnya bercak-bercak coklat-tua sampai kehitaman dengan lingkaran-lingkaran konsentris. Bercak-bercak ini akan membesar dan bergabung menjadi satu. Serangan penyakit bercak Alternaria dimulai dari daun yang paling bawah, dan kadang-kadang juga menyerang pada bagian batang. Pengendalian penyakit bercak Alternaria antara lain dengan cara menjaga kebersihan kebun, dan disemprot fungisida seperti Bleacher 250 EC, Mandat 80 WP, Botanil 75 WP, Brantacol 70 WP., secara berselang-seling.
 
Busuk Daun dan Buah (Phytophthora spp)
Penyakit busuk daun dapat pula menyebabkan busuk buah cabai. Gejala serangan nampak pada daun yaitu bercak-bercak kecil di bagian tepinya, kemudian menyerang seluruh batang. Batang tanaman cabai juga dapat diserang oleh penyakit ini, ditandai dengan gejala perubahan warna menjadi kehitaman. Buah-buah cabai yang terserang menunjukkan gejala awal bercak-bercak kebasahan, kemudian meluas ke arah sumbu panjang, dan akhirnya buah akan terlepas dari kelopaknya karena membusuk. Pengendalian penyakit ini dapat dilakukan dengan cara pengaturan jarak tanam yang baik, yaitu di musim hujan idealnya 70 x 70 cm, mengumpulkan buah cabai yang busuk untuk dimusnahkan, dan disemprot fungisida seperti Bleacher 250 EC, Mandat 80 WP, Botanil 75 WP, Brantacol 70 WP. secara berselang-seling.

cabe

Tanaman cabai merupakan tanaman yang paling rawan terhadap serangan hama dan penyakit, sanitasi lahan pada pertanaman cabai sangat diperlukan untuk menghindari lahan menjadi inang hama dan penyakit. Penyiangan gulma yang ada disekitar tanaman perlu dilakukan karena gulma bagi tanaman cabai sangat mempengaruhi pertumbuhan dan produksi cabai. Tanaman cabai cenderung kalah bersaing dalam mengambil hara tanah, selain itu gulma menjadi inang bagi hama tanaman. Untuk menghindari hal tersebut pada umumnya budidaya cabai dilakukan dengan cara memberikan mulsa MPHP pada bedengan. Selain sanitasi lingkungan pemeliharaan tanaman cabai juga membutuhkan perhatian lebih dibandingkan sayuran lain. Kali ini saya akan menyampaikan informasi bagaimana perawatan tanaman cabai :


Penyiraman

Pada fase pertumbuhan awal, penyiraman tanaman cabai dilkukan setiap hari terutama pada musim kemarau. Jika kondisi lahan porus sebaiknya penyiraman dilakukan 2 kali sehari pagi dan sore hari. 
Setelah tanaman memiliki pertumbuhan dan perakaran yang cukup kuat, penyiraman tanaman cabai pada polybag dapat dilakukan setiap 2 – 3 hari sekali.  
Pada pertanaman dilahan sawah/ pekarangan penyiraman dapat dilakukan 3 - 4 hari sekali dengan cara menggenangi air/leb pada parit yang ada diantara bedengan. Jika penggenangan lahan tidak memungkinkan maka penyiraman dapat dilakukan dengan teknik kocoran menggunakan selang yang dialirkan atau dikocorkan pada tanah diantara 4 tanaman.

Pemasangan ajir/turus

Tanaman cabai mudah roboh terutama pada waktu tanaman berbuah lebat, sehingga perlu dipasang ajir atau turus dengan tujuan untuk menopang tanaman. 
Ajir dibuat dari bilah bambu dengan ukuran panjang 125 cm dan lebar batang 4 cm. Pada pertanaman cabai di sawah Ajir ditancapkan tegak tiap 3 tanaman secara berjajar. Dari ajir ke ajir dihubungkan dengan bilah bambu memanjang pada ketinggian 80 cm dari permukaan tanah. Tanaman pada polybag juga dapat dipasang ajir pada setiap polybagnya. Batang yang melengkung karena berat beban buah cabai dapat diikatkan dengan tali pada ajir tersebut.  Pemasangan ajir dilakukan pada saat usia tanaman 1 bulan setelah pindah tanam. 

Perempelan

Perempelan (pembuangan) tunas samping yang berada di bawah cabang sekunder perlu dilakukan karena tunas samping tersebut tidak produktif hanya akan mengurangi pertumbuhan cabang tanaman yang produktif.
Perempelan tunas samping dilakukan pada saat tanaman berumur 7 – 20 hari, yaitu dengan cara membuang semua tunas samping yang tumbuh biasanya perempelan dilakukan hingga 2 - 3 kali.
Selain perempelan tunas samping juga perempelan terhadap bunga pertama yang berada di sela-sela cabangan pertama. Tujuannya adalah untuk merangsang pertumbuhan tunas-tunas dan percabangan di atasnya untuk menghasilkan buah yang lebih banyak.

Pemupukan Susulan

Selain pemupukan tanaman cabai pada saat pengolahan lahan, perlu dilakukan pemupukan susulan atau  pupuk tambahan, yang dilakukan pada saat fase pertumbuhan vegetatif. Pupuk tambahan berupa pupuk daun yang diberikan dengan cara disemprotkan pada tanaman. Pupuk yang banyak dijual di pasaran antara lain Multimicro dan Comlesal cair.
Pemupukan tambahan dapat dilakukan dengan interval penyemprotan antara 10 – 14 hari sekali, dengan dosis sesuai label produk.
Selain pupuk tambahan untuk pertumbuhan vegetatif (tunas dan daun), juga perlu dilakukan pemupukan untuk  pertumbuhan bunga dan buah.  Pupuk untuk pertumbuhan bunga dapat dilakukan pada saat tanaman berumur 50 hari menggunakan pupuk NPK/Ponska (15 : 15 : 15).  Pemupukan dengan dosis 250 kg/ha atau takaran pupuk kurang lebih 5 sendok makan yang diberikan diantara 4 tanaman. Pemberian pupuk dengan melubangi Mulsa Plastik Hitam Putih (MPHP) di antara 4 tanaman. Pupuk tersebut dimasukkan ke dalam tanah kemudian disiram dengan air bersih agar cepat larut dan tersebar ke perakaran tanaman.
Apabila kondisi pertumbuhan tanaman cabai kurang baik atau karena terserang hama penyakit dengan dosis NPK dapat diberikan pupuk sebanyak 4 – 5 kg dilarutkan dalam 200 lt air (1 drum) lalu dikocorkan pada setiap tanaman sebanyak 300 – 500 cc atau tergantung kebutuhan. 
Pemupukan tanaman cabai pada polybag dapat dilakukan dengan dosis antara 5 - 6 gram/ polybag. sebaiknya diberikan dengan cara dikocor menggunakan air bersih. Kelebihan dosis pupuk dan pemupukan pada terik matahari dapat mengakibatkan tanaman layu.

Varietas cabai hibrida umumnya bisa berbuah cukup lama, sehingga dapat dipanen hingga 12 – 14 kali. Agar produktivitas buah cabai tetap baik maka setiap usai panen perlu dilakukan pemupukan NPK atau campuran ZA, Urea, TSP, KCl dengan perbandingan 1 : 1 : 1 : 1. 

Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman
Pengendalian hama dan penyakit tanaman cabai dapat dilakukan dengan memberikan fungisida dan insektisida nabati dengan cara penyemprotan secara teratur. Jika menggunakan fungisida dan insektisida kimia dilakukan berdasarkan serangan hama dan aplikasinya sesuai anjuran serta harus tepat waktu dan sasaran. Fungisida dan pestisida kimia memiliki residu yang dapat membahayakan kesehatan manusia. 
Jenis hama dan penyakit yang menyerang pada budidaya cabai dan cara penanganannya adalah sebagai berikut :
Kutu daun/Aphis, penanggulangannya dengan : Curater diberikan pada umur 25 HST (1 gr/ batang) 
Hama Trips, penanggulangannya dengan : Lanate 2-5 EC , 2 cc/ ltr air 
Tungau, penanggulangannya dengan : Pagassus 500 SC, 2,5 cc/ ltr air 
Antraknosa (Colleorchum capsici dan C. gloesporoides), penanggulangannya dengan : 
  • Score 2 cc/ltr air
  • Daconil 20 gr/lt air (intreval 5 hari sekali) 
Penyakit bercak daun (Cercuspora capsici), penanggulangannya dengan : Daconil 25 cc/ltr air (intreval 4 hari sekali) 
Penyakit layu (Fusarium oxysporum), cara mengatasainya dengan : Eradikasi (tanaman dicabut dan bakar)
Penyiangan merupakan salah satu upaya pengendalian hama penyakit, karena adanya gulma dapat menjadi inang berkembangnya hama dan penyakit, untuk itu pengawasan secara rutin dan berkala harus dilakukan pada pertanaman cabai sehingga ketika terdapat gejala hama dan penyakit dapat sedini mungkin ditanggulangi. Semoga informasi ini dapat bermanfaat  (amss)

pertama

yah pertama tama inginya yah menyambut kalian di blog baru saya ,,berhubung yg dulu hilang karena lupa email plu passwordnya,,,,,,yah mungkin dulu belum terlalu serius menekuni dunia blog,,,,,,,tapi mungkin sekarang pengen lebih untuk belajar blog,,,,,,,yah gmana lagi dunia nsemakin modern ,bagaiman pun juga kta harus bisa menggunakan fasilitas modern di dalamnya,

yang penting kita masih menggunakan dalm hal yang positf..oke  ,,salm kenal ,,mugi santoso